Mari Perbanyak Amal di Bulan Dzulhijjah

Istilah-istilah yang terdapat dibulan Dzulhijjah:

1. Hari tasyrik

Yaitu yaitu hari tanggal 11, 12 dan 13 Zulhijjah. Pada hari-hari itu jamaah haji berada di Mina untuk melontar jamrah dan mabit.Pada hari-hari ini, diharamkan untuk kita berpuasa di dalamnya.

عَنْ أَبِي مُرَّةَ مَوْلَى أُمِّ هَانِئٍ أَنَّهُ دَخَلَ مَعَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو عَلَى أَبِيهِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ ، فَقَرَّبَ إِلَيْهِمَا طَعَامًا ، فَقَالَ : كُلْ . قَالَ : إِنِّي صَائِمٌ . قَالَ عَمْرٌو : كُلْ ، فَهَذِهِ الأَيَّامُ الَّتِي كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُنَا بِفِطْرِهَا ، وَيَنْهَى عَنْ صِيَامِهَا . قَالَ مَالِكٌ : وَهِيَ أَيَّامُ التَّشْرِيقِ . صححه الألباني في صحيح أبي داود .

Dari Abi Murrah Maula (bekas budak) Umi Hani, Bahwa ia bersama Abdullah bin Amr datang kepada ayahnya Amru bin Ash, Maka disuguhkanlah kepada mereka berdua makanan. Ia (Amr bin Ash), “Makanlah”. Ia (Abdullah bin Amr) menjawab, “Aku sedang puasa”. Maka Amr bin Ash berkata, “Makanlah, karena hari ini adalah hari dimana Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam memerintahkan kita untuk berbuka (makan) dan melarang dari berpuasa pada hari ini”. Malik berkata, “(yang dimaksud) Itulah hari-hari tasyriq”

(Dishohihkan Oleh Syeikh al-Albany dalam Shohih Sunnan Abi Daud)

اليوم الحادي عشر من ذي الحجة والثاني عشر والثالث عشر ، تسمى أيام التشريق

Hari 11, 12 dan 13 Dzulhijjah adalah Hari Tasyrik

2. Hari arafah : hari dimana jamaah haji melaksanakan wukuf di arafah. Hari arafah jatuh pada hari kesembilan dari bulan dzulhijjah.

3. Puasa Arafah : puasa sunnah yang dilakukan pada hari arafah, yaitu 9 Dzulhijjah. Puasa ini disunnahkan bagi kaum muslimin yang tidak pergi haji. Namun bagi yang berhaji, tidak dibolehkan berpuasa pada hari ini.

Dalil puasa tanggal 9 Zulhijjah atau yang dikenal puasa Arafah itu adalah sabda Rasulullah SAW :

يٌكَفِّرُ السَّنة المَاضٍيَةَ و البَاقٍيَةَ

“Puasa Arafah menghapus dosa-dosa (kecil) setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” (HR. Muslim).

Puasa Arafah juga Sesuai Ru’yah Masing-Masing Negeri

Alhamdulillah, jawabannya bisa diperoleh di Fatawa Ahkamis Shiyam Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Fadhilatus Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya (Fatawa Ahkamis Shiam no. 405):

“Apabila hari Arafah berbeda karena perbedaan masing-masing wilayah di dalam mathla’ (tempat terbit) hilal, maka apakah kita berpuasa mengikuti ru’yah negeri tempat kita berada ataukah kita berpuasa mengikuti ru’yah Al-Haramain (Makkah dan Madinah –pent)?

Maka beliau menjawab :

Perkara ini dibangun di atas ikhtilaf para ulama, apakah hilal itu satu saja untuk seluruh dunia atau berbeda sesuai mathla’nya (tempat terbit bulan). Dan yang benar bahwa penampakan hilal berbeda sesuai dengan perbedaan mathla’.

Sebagai contoh: Apabila hilal telah nampak di Kota Makkah, dan sekarang adalah hari ke sembilan (di Makkah), hilal juga terlihat di negeri yang lain satu hari lebih cepat daripada Makkah sehingga hari Arafah (di Makkah) adalah hari kesepuluh bagi mereka. Maka mereka tidak boleh berpuasa karena hari tersebut adalah hari raya.

Demikian pula sebaliknya, jika di suatu negeri ru’yahnya lebih lambat daripada Makkah maka tanggal sembilan di Makkah merupakan tanggal delapan bagi mereka. Maka mereka berpuasa pada hari ke sembilan (menurut negeri mereka) bersamaan dengan tanggal sepuluh di Makkah. Ini merupakan pendapat yang kuat. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

اذا رايتموه فصوموا و اذا رايتموه فافطروا

“Jika kalian melihatnya (hilal) maka berpuasalah, dan apabila kalian melihatnya maka berbukalah” (Dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari Kitab Ash-Shaum, Bab Hal Yuqal Ramadhan (1900) dan Muslim di Kitab Ash-Shiyam, Bab Wujubus Shaum (20)(1081)).

Orang-orang yang hilal itu tidak nampak dari arah (daerah) mereka berarti mereka tidaklah melihat hilal tersebut. Begitu juga manusia telah sepakat bahwa mereka menganggap terbitnya fajar dan terbenamnya matahari pada setiap wilayah disesuaikan dengan wilayah masing-masing. Maka demikian pulalah penetapan waktu bulan seperti penetapan waktu harian.

Demikianlah fatwa dari Fadhilatus Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Sebagai informasi tambahan, sebagian ikhwah juga telah mengabarkan kepada kami, bahwa pada tahun yang lalu ikhwah Indonesia (dari Depok) telah bertanya pula kepada Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi, mufti Kerajaan Saudi Arabia Bagian Selatan tentang permasalahan ini, maka beliau menjawab bahwa puasa Arafah mengikuti ru’yah negerinya masing-masing. Walhamdulillah(*).

4. Puasa 10 hari di bulan Dzulhijjah

Keutamaan 10 hari Awal Dzulhijjah

Dalil-dalilnya adalah:

1. Firman Allah Subhaanahu wa Ta’ala :
“Demi fajar, dan malam yang sepuluh.” (Al-Fajar: 1-2) Ibnu Katsir Rahimahullah menerangkan, bahwa yang di maksud adalah 10 hari pertama pada bulan Dzulhijjah.

2. Firman Allah Subhaanahu wa Ta’ala :
“Pada hari-hari yang telah ditentukan.” (Al-Hajj: 28)
Ibnu Abbas Radhiallaahu ‘anhu berkata yaitu: hari-hari sepuluh (Dzulhijjah).

3. Ibnu Abbas Radhiallaahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tiada amal ibadah di hari apapun yang lebih utama dari 10 hari ini” mereka bertanya, “tidak pula jihad? Rasulullah bersabda: “Tidak pula jihad, kecuali seseorang yang keluar mempertaruhkan jiwa dan hartanya, kemudian tidak kembali dengan sesuatu apapun.” (HR. Al-Bukhari)

4. Ibnu Umar Radhiallaahu ‘anhu berkata: “Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tiada hari-hari yang paling agung di sisi Allah dan dicintaiNya untuk beramal di dalamnya dari pada 10 hari (Dzulhijjah) ini, maka perbanyaklah tahlil, takbir, dan tahmid pada saat ini.” (HR. At-Thabrani)

Jadi 10 hari pertama bulan dzulhijjah memiliki keutamaan yang tinggi. 10 hari yang mulia itu adalah :

–         Puasa tanggal 1-8 Dzulhijjah

–         Puasa arafah, pada tanggal 9 Dzulhijjah

–         Hari raya Qurban

      Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Qurath radhiyallahu
'anhu beliau berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Hari yang paling utama (afdhal) adalah hari raya qurban (10 Dzulhijjah)"(HSR. Ibnu Hibban)

Puasa sunnah di 10 hari pertama di bulan Dzulhijjah dihitung mulai dari

tanggal 1 -8 Dzulhijjah. Dalilnya sebagai berikut :

Empat hal yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah SAW: [1] Puasa hari Asyura, [2] Puasa 1-8 zulhijjah, [3] 3 hari tiap bulan dan [4] dua rakaat sebelum fajar. (HR. Ahmad, Abu Daud dan Nasai).

Jadi puasa dzulhijjah terdiri dari puasa tanggal 1 – 8 Dzulhijjah, ditambah 1 puasa arafah, yaitu tanggal 9 Dzulhijjah.

Ketahuilah bahwasanya disisi Allah SWT hari Arafah merupakan seutamanya hari-hari di dunia ini, “Afdhalul ayam yamul’Arafah” artinya “Sebaik-baik hari adalah hari Arafah” (HR Ibnu Majah), ialah hari yang diampuninya dosa-dosa dan dihapuskannya, hari pembebasan dari neraka, dan hari yang menjadi saksi bagi Muwaqif (orang yang berwuquf). Dan dalam sebuah hadits, “Tidak ada hari yang lebih banyak dimana Allah SWT membebaskan hamba-hamba-Nya dari Neraka pada hari itu kecuali di hari ‘Arafah, dan Allah SWT mendekatkan mereka, serta membanggakannya di hadapan Mala’ikat lalu berkata : “Apa yang mereka inginkan niscaya akan Kuberikan” (HR Muslim).

Oleh karena itu apa yang harus kita persembahkan di bulan yang penuh berkah dan mulia ini?
Bertaubatlah dengan “Taubatan Nasuha” (taubat yang benar) dan meninggalkan segala macam dosa dan kema’siatan. Sebab dosa mengakibatkan akan terjauhnya seorang insan daripada keutamaan Rabbnya dan akan terhijab hatinya dengan Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda “Setiap anak cucu Adam pasti memiliki dosa dan kesalahan, maka sebai-baik orang yang berbuat dosa adalah orang yang senantiasa  bertaubat
Memantapkan niat dan azam (tekad) yang sungguh-sungguh untuk mencari ridha-Nya, sebab niat seorang mu’min lebih baik dari amalnya.
Niat untuk selalu berkurban secara fisik ataupun menyembelih hewan kurban lilllahi Ta’ala.
Amalan yang dianjurkan di sepuluh awal Dzulhijjah :
Shalat :
Seharusnya kita selalu semangat untuk senantiasa menjaga salat lima waktu dengan berjama’ah dan selalu bersegera untuk melaksanakannya apalagi pada bulan-bulan yang mulia, ditambah dengan salat sunah nafilah lainnya (sunat rawatib, duha, tahjud dll)
Shaum :
Yang merupakan amal saleh yang akan menjaga dan mendekatkan diri kita kepada Allah SWT. Dan Rasulullah tidak ernah meninggalkannya, seperti dalam hadits yang diriwayatkan Umul mu’minien Hafsah, “Bahwasanya Rasulullah SAW tidak pernah meninggalkan saum sunat sepuluh Muharram, ‘Asyru (awal dzulhijjah), ayamul bied setiap bulah hijriyyah (13,14,15 H), terutama saum ‘Arafah “Shaum hari ‘Arafah dimana Allah Swt akan mengampuni dosa kita setahun yang lalu dan setahun setelahnya” (HR Muslim). Maka dari itu para sahabat senantiasa melakukan seperti Abdullah bin Umar, dan Imam Nawawi menganjurkan sekali agar kita melakukan shaum sepuluh awal di bulan Dzulhijjah (tanggal 1-9), terutama shaum ‘Arafah.
Perbanyak Dzikir dan tilawah Quran
Maka perbanyaklah hari-hri kita dengan Takbier, Tahmid, dan Tahliel. Sebagaimana yang dilakukan Nabi Muhamad Saw. “Tidak ada hari-hari yang agung dan mulia disisi Allah Swt dan juga tidak ada amal yang paling dicintai Allah Swt pada Awal sepuluh hari Dzulhijjah, maka Perbanyaklah Tahliel, Takbier, dan Tahmied”. (HR Ahmad).
Al-Quran merupakan pedoman hidup bagi orang-orang yang beriman, maka baca dan amalkanlah Al-Quran sebab ia akan menjadi Syafa’at di akhirat ketika kita semua akan menjadi “Terdakwa” dipersidangan Sang Maha Bijaksana Al-Quran dan Shaum akan menghadap Allah Swt untuk menjadi saksi dan pembela bagi Ahlinya yang selalu mencintai dan berta’amul dengannya setiap hari .
“Mu’min yang selalu membaca dan mengamalkannya Al-Quran ia ibarat pohon “Utrujah” wangi semerbak dan manis rasannya, Mu’min yang mengamalkan dan jarang membaca ia seperti pohon kurma manis rasanya tapi tak ada bau semerbak…”
Maka dari itu perbanyaklah dzikir, shalawat dan tilawah Al-quran setiap hari apalagi dubulan ini karena amalan itu akan senantiasa membersihkan dan menghidupkan hati kita yang sedang kering.

Semoga allah memberikan taufiq kepada kita untuk dapat mendekat pada-Nya dengan bentuk-bentuk ibadah yang telah ditunjukkan oleh Rasul-Nya yang mulia. Semoga Shalawat dan salam tercurah kepadanya. amien

Allahu a’lam.

Sumber :

http://ummulmiqdad.multiply.com

http://fajnash.blog.friendster.com

 

One thought on “Mari Perbanyak Amal di Bulan Dzulhijjah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s